Awalnya Cari Pohon Beringin, Rasyad Justru Menemukan Sejarah Kota Beji Depok



Sehari setelah Hari Raya Natal, tepatnya Jumat, 26 Desember 2025, saat jam baru menunjukkan pukul 06.00 WIB, Rasyad—anak keempat saya—mengingatkan keinginannya untuk melihat pohon beringin. Ia mendapat cerita dari sekolah tentang kegagahan pohon ini yang bisa berusia ratusan tahun, diameter batangnya yang besar—bahkan sulit dipeluk oleh dua hingga tiga orang dewasa—serta akarnya yang kuat dan rimbunnya dedaunan.

Saat itu posisi kami sudah berada di Kota Depok, Jawa Barat, setelah sehari sebelumnya tiba dari tempat tinggal kami di Kota Tangerang. Saya pun mengingat-ingat di mana pohon beringin besar itu berada. Saya memang tidak asing dengan pohon ini. Waktu kecil, di halaman SD Anyelir 1—tempat saya bersekolah dasar—ada pohon beringin yang rimbun dan kerap dijadikan tempat berteduh saat bermain dan berolahraga. Selain itu, yang saya tahu tentang pohon beringin adalah lambangnya sebagai simbol Golongan Karya serta kisah-kisah mistis yang sering melekat padanya.




Saya teringat dua lokasi pohon beringin besar di Kota Depok. Pertama, di Jalan Bango Raya dekat SMP Negeri 2, yang belakangan harus saya koreksi karena ternyata itu bukan pohon beringin, melainkan pohon kapuk. Kedua, berada di dekat Masjid Nurul Salam, Beji, Depok, tak jauh dari pemakaman dan situs Sumur Tujuh yang terkenal dengan mitosnya.

Saya memutuskan untuk menuju lokasi kedua. Keputusan itu juga diperkuat setelah saya browsing di Google dan menemukan fakta yang cukup mencengangkan. Tepat di atas masjid tersebut terdapat petilasan Mbah Wujud Beji Depok, seorang penyebar Islam dari Kerajaan Cirebon. Dari kisah beliau pula lahir tujuh sumur yang kini dikenal di Kota Depok.

Selama ini saya mengenal Sumur Tujuh hanya sebagai tempat orang-orang mandi untuk mencari “berkah”. Sahabat saya bahkan kerap mandi di sumur tersebut pada malam Jumat tertentu ketika ingin memiliki ilmu kebal, yang pada masanya cukup digandrungi anak muda. Motivasinya pun beragam, mulai dari ingin kebal saat tawuran hingga sekadar melindungi diri dari gangguan pemuda lain.

Akhirnya saya mengajak Rausyan, anak pertama, dan Raya, anak kelima. Dengan motor Beat putih, kami meluncur ke lokasi yang dimaksud. Kami sempat sedikit tersasar karena sudah lama saya tidak ke daerah tersebut. Padahal pada tahun 1990-an, saya dan kawan-kawan kerap melalui jalan ini pada sore hari—baik untuk menuju lapangan bola guna bermain, maupun sekadar menonton pertandingan yang kami anggap seru.

Hanya butuh waktu sekitar lima menit untuk mencapai lokasi. Setelah memarkir kendaraan, kami menaiki undakan tangga dan melihat sebuah plang berwarna hijau dengan tulisan putih berbunyi, “Selamat Datang di Petilasan Sumur Tujuh, Embah Raden Wujud Beji.” Jujur, ini adalah kali pertama saya menjejakkan kaki di tempat ini. Padahal saya sering melewatinya, namun selalu mengira tempat ini sarat nuansa mistis sehingga sebaiknya dihindari. Pandangan yang belakangan saya akui keliru.

Di atas, tepatnya di area petilasan—yang menurut Bang Satiri, penjaga Sumur ke-1 dari Sumur Tujuh di Jalan Kopo, Beji, merupakan lokasi padepokan Embah Wujud saat menyebarkan Islam di Depok—berdiri dua pohon beringin besar. Rasyad memandang pohon-pohon itu dengan takjub. Saat saya asyik menjelaskan bagian-bagian pohon beringin kepada Rasyad, seorang warga melintas dan memberi informasi bahwa makam Embah Wujud berada di area pemakaman di bagian bawah petilasan. Kami pun menuju ke sana dan kembali menemukan sebuah pohon beringin besar serta makam Embah Wujud yang berada di dalam bangunan berbentuk persegi. Saya memutuskan untuk tidak masuk melihat langsung makam tersebut.

Lalu, siapa Embah Wujud?

Dari literatur yang saya dapatkan di internet, Mbah Wujud merujuk pada Mbah Raden Wujud Beji, seorang tokoh spiritual dan penyebar agama Islam yang dihormati di Depok, Jawa Barat. Keberadaan Sumur Tujuh tidak dapat dilepaskan dari sosok beliau. Suatu ketika, wilayah Beji—yang saat itu merupakan daerah pertanian—mengalami kekeringan. Masyarakat pun meminta saran kepada Mbah Wujud mengenai kondisi tersebut. Dikenal sebagai tokoh agama, Mbah Wujud kemudian berdoa. Asumsi saya, beliau melaksanakan shalat istisqa, yaitu shalat meminta hujan yang diajarkan Rasulullah saw. ketika kemarau panjang melanda. Tak lama setelah doa tersebut, muncul beberapa titik air yang kemudian dikenal sebagai Sumur Tujuh.



Sepertinya hingga kini belum banyak literatur tertulis yang membahas Mbah Wujud maupun Sumur Tujuh yang tersebar ini. Bahkan di lokasi petilasan dan makam pun informasi yang tersedia sangat minim. Hal ini sangat disayangkan karena yang berkembang justru mitos dan kisah-kisah mistis seputar sosok Mbah Wujud. Padahal, sejarah lokal—jika dikelola dengan baik—dapat menjadi magnet bagi sebuah kota. Depok sendiri kerap dikenal sebagai kota yang melupakan sejarahnya, meskipun memiliki banyak situs penting terkait keberadaannya sebagai wilayah perbatasan Jawa Barat dan Jakarta.

Saat saya menceritakan petualangan mencari pohon beringin ini kepada istri, ia nyeletuk, “Seru juga ya kalau kita cari-cari info kecil seperti ini.” Apakah akan terwujud? Ya, hanya waktu yang akan membuktikannya.

Oiya berikut link vlog dari perjalanan kami tersebut  Legenda 7 Sumur Keramat di Beji, Kota Depok

Tidak ada komentar